Kamis, 04 Desember 2014
Politik Tandingan dalam Perspektif Demokrasi Pancasila
Minggu, 28 April 2013
Pesta Masyarakat Kudus
Hajatan Pemilu Kepala Daerah (PILKADA) Kabupaten Kudus rencananya akan diselenggarakan pada tanggal 26 Mei 2013 bersamaan juga dengan Pilkada Jateng. Pilkada bersama ini (Provinsi dan Kabupaten) akan membuat pesta masyarakat Kudus semakin meriah.
Nasib Kabupaten Kudus kedepan akan ditentukan dalam Pilkada ini setidaknya untuk 5 tahun mendatang. Untuk itu, masyarakat Kudus diharapkan dapat menggunakan hak pilihnya dan memilih calon yang benar-benar dapat mengemban amanat masyarakat.
Dalam Pilkada 2013 ini, ada 5 pasangan calon yang akan berjuang unyuk menduduki kursi Bupati dan Wakil Bupati Kudus. Berikut adalah para calon Bupati dan Wakil Bupati Kudus sesuai dengan nomor urutnya:
1. HM. Tamzil - Asyrofi
2. Badri Hutomo - Sofyan Hadi
3. Erdi Nurkito - Anang Fahmi
4. Mustofa - Abdul Hamid
5. Budiyono - Sakiran
Kamis, 17 Januari 2013
Gegap Gempita Pesta Rakyat 2014
Aroma pemilu pun semakin terasa ketika pada tanggal 14 Januari 2013 KPU melakukan pengundian nomor urut partai politik. Berikut adalah nomor urut partai politik pada pemilu 2014 mendatang:
Nomor urut 2: Partai Kebangkitan Bangsa (PKB)
Nomor urut 3: Partai Keadilan Sejahtera (PKS)
Nomor urut 4: Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P)
Nomor urut 5: Partai Golongan Karya (Partai Golkar)
Nomor urut 6: Partai Gerakan Indonesia Raya (Partai Gerindra)
Nomor urut 7: Partai Demokrat
Nomor urut 8: Partai Amanat Nasional (PAN)
Nomor urut 9: Partai Persatuan Pembangunan (PPP)
Nomor urut 10: Partai Hati Nurani Rakyat (Partai Hanura)
Sabtu, 01 Oktober 2011
RESHUFFLE KABINET, Bisakah mendongkrak Popularitas SBY? Oleh Khoirul Annas, S.Pd
Rabu, 23 Februari 2011
Gelombang Unjuk Rasa di Timur Tengah, Antara Suara Rakyat atau Intervensi?
Gelombang Unjuk Rasa di Timur Tengah,
Antara Suara Rakyat atau Intervensi?
Beberapa minggu terakhir ini timur tengah menjadi pusat perhatian dunia. Tidak lain karena banyaknya gelombang unjuk rasa di Negara-negara timur tengah yang menuntut adanya reformasi pemerintahan dan penggantian penguasa yang memang sudah berpuluh-puluh tahun memimpin Negara-negara tersebut. Selain itu, hal sama yang menjadi tuntutan rakyat di Negara-negara timur tengah adalah adanya akses keterbukaan informasi serta hak-hak rakyat yang selama ini dikekang oleh pemerintah dibebaskan.
Memanasnya kondisi di Timur tengah diawali dari gelombang unjuk rasa yang terjadi di Negara Tunisia (Afrika) yang dipimpin oleh Presiden Ben Ali yang sudah berkuasa lebih dari 2 dasawarsa. Rakyat merasa hak-hak pribadi dikekang oleh penguasa, ditambah dengan permasalahan kemiskinan yang melanda sebagian rakyat di Tunisia. Apalagi dalam kepemimpinan Ben Ali terjadi penyelewengan harta Negara yang digunakan oleh keluarga dari Ben Ali. Carut-marutnya kondisi Negara memaksa rakyat turun jalan menuntut Presiden Ben Ali mundur dari jabatannya. Begitu besarnya unjuk rasa mengakibatkan Presiden Ben Ali melarikan diri keluar negeri dan akhirnya menyerahkan kekuasaan yang selama ini dipegangnya.
Beberapa saat setelah lengsernya pemimpin Tunisia, mengakibatkan Negara-negara disekitarnya ikut bergejolak seperti Mesir. Negara Mesir dipimpin oleh Presiden Hosni Mubarok selama 30 tahun dan akan berakhir pada September 2011. Namun sebelum habis masa jabatannya, Hosni Mubarok sudah menyiapkan putranya untuk maju dalam pemilu yang akan datang. Hal inilah yang menjadi salah satu pemicu gelombang unjuk rasa di Mesir, selain karena rakyat mesir yang sudah begitu menderita ketika dipimpin oleh Hosni Mubarok. Pada awal munculnya gelombang unjuk rasa di Mesir Presiden Hosni Mubarok tidak bergeming dari tuntutan mundur yang disuarakan rakyat, namun karena begitu dahsyatnya unjuk rasa dan tekanan dari Negara lain (Amerika) agar pemerintah tidak keras dalam memperlakukan unjuk rasa dan mau mendengar aspirasi rakyat, akhirnya Hosni Mubarok resmi mundur dari kursi Presiden hari jum’at, 11 Februari 2011.
Pasca gelombang Tunisia dan Mesir yang berhasil menggulingkan Pemerintahan yang sudah bertahun-tahun berkuasa, kini Negara-negara di Timur Tengah dan Afrika yang berbasis Islam juga ikut memanas menginginkan adanya pergantian pemerintahan dan pemenuhan hak-hak rakyat. Seperti yang terjadi di Yaman, Bahrain, Iran, dan Libya.
Banyak pihak menduga peristiwa yang terjadi di Negara-negara berbasis islam tersebut syarat dengan kepentingan luar negeri atau ada intervensi dari Negara asing. Seperti yang disampaikan oleh Ketua PBNU KH. Said Agil Siradj dalam menanggapi kerusuhan di Mesir “Detik-detik ini sedang terjadi krisis yang luar biasa di Mesir. Saya yakin itu bukan tanpa kebetulan, tapi merupakan 'by design'. Walaupun memang faktor internal juga kacau-balau," ujar Said saat membuka Raker Fraksi PKB di Jakarta, Senin (31/1/2011). Pernyataan adanya campur tangan asing juga disampaikan oleh Presiden Libya "Saya takut akan revolusi Tunisia karena saya melihat adanya intevensi asing … Intervensi tersebut memberikan keuntungan untuk kepentingan asing," Gaddafi (25/1/2011).
Tuduhan adanya campur tangan asing bisa saja benar karena selama ini Negara-negara barat yang dipelopori Amerika ingin menghancurkan Negara-negara Islam. Tentu ada yang lewat invasi (penyerangan) seperti Irak, Afganistan dan ada yang dengan membuat kekacauan di Negara Islam seperti di Tunisia dan Mesir.
Melihat kondisi tersebut maka sudah saat nya kita sebagai umat islam untuk merperkuat ukhuah islamiah (persatuan diantara umat islam) sehingga tidak mudah diacak-acak oleh Negara-negara yang ingin menghancurkan Islam. Ibarat pepatah “Bersatu kita teguh, Bercerai kita runtuh”.



